Sabtu, 11 Mei 2013


OBJEK    LINGUISTIK:

BAHASA
A.       PENGERTIAN BAHASA
Bahasa adalah sebuah sistem lambang bunyi yang bersifat  arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berinteraksi dan berkomunikasi. Bahasa juga dikatakan sebuah langue, sopan santun, kebijakan dalam bertindak, lambang, dengan cara, ujarannya, bersifat hipotetis (perumpamaan).
Sebagai objek kajian linguistik (ilmu bahasa), parole merupakan objek konkret karena parole itu berwujud ujaran nyata yang diucapkan oleh para bahasawan dari suatu masyarakat bahasa. Langue merupakan objek yang abstrak karena berwujud system suatu bahasa tertentu secara keseluruhan; sedangkan langage merupakan objek yang paling abstrak karena dia berwujud system bahasa secara universal.

B.       HAKIKAT BAHASA
Ada beberapa ciri atau sifat yang hakiki dari bahasa. Sifat atau cirri itu, antara lain, adalah (1) bahasa itu adalah sebuah system, (2) bahasa itu berwujud lambing, (3) bahasa itu berupa bunyi, (4) bahasa itu bersifat arbirter, (5) bahasa itu bermakna, (6) bahasa itu bersifat konfensional, (7) bahasa itu bersifat unik, (8) bahasa itu bersifat universal, (9) bahasa itu bersifat produktif, (10) bahasa itu bervariasi, (11) bahasa itu bersifat dinamis, (12) bahasa itu berfungsi sebagai alat interaksi social, dan (13) bahasa itu merupakan identitas penuturnya. Di bawah ini cirri atau sifat bahasa itu akan dibicarakan satu per satu secara singkat.

1.         Bahasa Sebagai Sistem
Kata system sudah bias digunakan dalam kehidupan sehari-hari dengan makna ‘cara’ atau ‘aturan’, seperti dalam kalimat. Bahasa terdiri dari unsur-unsur atau komponen-komponen yang secara teratur tersusun menurut pola tertentu, dan membentuk suatu kesatuan. Subsistem bahasa terdiri dari wacana, kalimat, klausa, frase, kata, morfem, fonem, dan fon.

2.      Bahasa Sebagai Lambang
Kata lambang antara lain tanda (sign), lambang (simbol), sinyal (signal), gejala (symptom), gerak isyarat (gesture), kode, indeks, dan ikon. Lambang atau simbol tidak bersifat langsung dan alamiah. Lambang menandai sesuatu yang lain secara konfensional.
Gerak isyarat atau gesture adalah tanda yang dilakukan dengan anggota badan, dan tidak bersifat imperative. Gerak isyarat ini mungkin merupakan tanda mungkin juga merupakan symbol.
3.      Bahasa Adalah Bunyi
Bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara. Bunyi ini bias bersumber pada gesekan atau benturan benda-benda, alat suara pada binatang dan manusia. Tetapi tidak semua bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia termasuk bunyi bahasa , misalnya teriak, bersin batuk-batuk, dan bunyi orokan.

4.      Bahasa Itu Bermakna
Bahasa itu bermakna adalah suatu pengertian, suatu konsep, suatuu ide, atau suatu pikiran yang ingin disampaikan dalam wujud bunyi itu. Lambang-lambang bunyi bahasa yang bermakna itu didalam bahasa berupa satuan-satuan bahasa yang berwujud morfem, kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Semua satuan itu memiliki makna.

5.      Bahasa Itu Arbitrer
Kata arbitrer bias diartikan sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka. Yang dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengen konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.

6.      Bahasa Itu Konvensional
Konvensional artinya semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi Kekonvensionalan bahasa terletak pada kepatuhan para penutur bahasa.

7.      Bahasa Itu Produktif
       Kata produktif adalah bentuk ajektif dari kata benda produksi. Arti produktif adalah ’’banyak hasilnya’’, atau lebih tepat ‘’terus menerus menghasilkan’’. Lalu, kalau bahasa itu dikatakan produktif, maka maksudnya, meskipun unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur-unsur yang jumlahnya terbats itu dapat  dibuat satuan-satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas.
        Keproduktifan bahasa memang ada batasnya.Dalam hal ini dapat dibedakan ada dua macam keterbatasan, yaitu keterbatasan pada tingkat parole dan keterbatasan pada tingkat Langue. Keterbatasan pada tingkat parole adalah pada ketidaklaziman  atau kebelumlaziman bentuk-bentuk yang dihasilkan. 

8.      Bahasa Itu Unik
Unik artinya mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang   lain. Kalau bahasa dikatakan bersifat unik, maka artinya,setiap bahasa mempunyai cirri khas  sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lain. Ciri khas ini menyangkut sistem bunyi, system pembentukan kata,system pembentukan kalimat, atau system-sistem lainnya. Salah satu keunikan bahasa Indonesia adalah bahwa tekanan kata tidak bersifat morfemis, melainkan sintaksis. Maksudnya, kalau pada kata tertentu di dalam kalimat kita berikan tekanan, maka makna kata itu tetap. Yang berubah adalah keseluruhan kalimat.
      
9.      Bahasa Itu Universal
Bahasa bersifat universal artinya ada cirri-ciri yang sama dimiliki oleh setiap        bahasa yang ada didunia ini. Ciri universal dari bahasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vocal dan konsonan. Bukti lain dari keuniversalan bahasa adalah bahwa setiap bahasa mempunyai satuan-satuan bahasa yang bermakna, entah satuan yang namanya kata, frase, klausa, kalimat ,dan wacana.

10.  Bahasa Itu Dinamis
       Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai mahkluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Tak ada kegiatan manusia yang tidak disertai oleh bahasa, dalam bermimpipun manusia menggunakan bahasa.
        Karena keterikatan dan keterkaitan bahasa itu dengan manusia, sedangkan dalam kehidupannya dalam masyarakat kegiatan manusia itu tidak tetap dan selalu berubah, maka bahasa itu juga menjadi ikut berubah, menjadi tidak tetap, menjadi tidak statis. Karena itulah bahasa itu disebut Dinamis.
        Perubahan bahasa bisa terjadi pada semua tataran, baik fonologi, morfologi, sintaksis, semantic, maupun leksikon. Perubahan yang paling jelas, dan paling banyak terjadi adalah pada bidang leksikon dan semantik.

11.  Bahasa Itu Bervariasi
         Setiap bahasa digunakan oleh sekelompok orang yang termasuk dalam suatu masyarakat bahasa. Mengenai variasi bahasa ini ada tiga istilah yang perlu diketahui, yaitu idiolek, dialek, dan ragam. Idiolek adalah variasi atau ragam bahasa yang bersifat perseorangan.Dialek adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu. Variasi bahasa berdasarkan tempat ini lazim disebut dengan nama dialek regional, dialek areal, atau dialek geografi. Sedangkan variasi bahasa yang digunakan anggota masyarakat dengan status social adalah dialek sosial atau sosialek.
       Ragam atau ragam bahasa adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan, atau untuk keperluan tertentu.Untuk keperluan pemakaiannya dapat dibedakan adanya ragam bahasa ilmiah, ragam bahasa jurnalistik, ragam bahasa sastra, ragam bahasa militer dan ragam bahasa hukum.
    
12.  Bahasa Itu Manusiawi
       Bahasa itu adalah system lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, bersifat arbirter, bermakna dan produktif, maka dapat dikatakan bahwa binatang tidak mempunyai bahasa. Manusia sering disebut sebagai homo sapien ’mahkluk yang berpikir’, homo sosio ’mahkluk yang bermasyarakat’, homo faber ‘mahkluk pencipta alat-alat’,dan juga animal rationale ‘mahkluk rasional yang berakal budi.
        Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa alat komunikasi manusia yang namanya bahasa adalah bersifat manusiawi, dalam arti hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia.

C.                 BAHASA DAN FAKTOR LUAR BAHASA

Faktor-faktor di luar bahasa berkaitan dengan kegiatan manusia di dalam masyarakat, sebab tidak ada kegiatan yang berhubungan dengan bahasa. Oleh karena itu, hal-hal yang menjadi objek kajian linguistik makro itu sangat luas dan beragam. Mulai dari kegiatan yang betul-betul merupakan kegiatan berbahasa, seperti penerjemahan, penyusunan kamus, pendidikan bahasa, sampai yang hanya berkaitan dengan bahasa seperti pengobatan dan pembangunan. Kaitannya yang erat dengan bahasa adalah masalah bahasa dalam kaitannya dengan kegiatan social dalam masyarakat atau lebih jelasnya, hubungan bahasa dengan masyarakat itu.

1.      Masyarakat Bahasa
Kata masyarakat diartikan sebagai sekelompok orang, yang merasa sebangsa, keturunan, sewilaya tempat tinggal, atau mempunyai kepentingan social yang sama. Dalam kehidupan kita mempunyai konsep masyarakat bahasa dapat menjadi luas dan menjadi sempit yang meliputi batas propinsi, batas negara, dan bahkan batas benua.
      Secara lingustik bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia adalah bahasa yang sama, karena kedua bahasa itu banyak sekali persamaannya sehingga orang Malaysia dapat mengerti dengan baik bahasa Indonesia, dan sebaliknya orang Indonesia dapat mengerti dengan baik bahasa Malaysia.
      Akhirnya tentang masyarakat bahasa ini adalah masalah, bagaimana dengan masyarakat yang bilingual atau multilingual, seperti keadaan di Indonesia, yang selain ada bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia, ada pula bahasa-bahasa daerah. Orang Indonesia pada umumnya adalah bilingual, yaitu menggunakan bahasa Indonesia dan menggunakan bahasa daerahnya; tetapi kebanyakan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua; tetapi menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pertama. Banyak juga yang multilingual, karena selain menguasai bahasa Indonesia, menguasai bahasa daerah sendiri, munguasai pula bahasa daerah lain, atau bahasa asing.

2.      Variasi dan Status Sosial Bahasa
Dalam beberapa masyarakat tertentu ada semacam kesepakatan untuk membedakan adanya dua macam variasi bahasa yang dibedakan berdasarkan status pemakainya. Yang pertama adalah variasi bahasa tinggi (T), dan yang lain bahasa rendah (R). Variasi T digunakan dalam situasi-situasi resmi, seperti pidato kenegaraan, bahasa pengantar dalam pendidikan, khotbah, surat-menyurat resmi, dan buku pelajaran. Sedangkan variasi bahasa R digunakan dalam situasi yang tidak formal, seperti di rumah, di warung, di jalan, dalam surat-surat pribadi, dan catatan untuk diri sendiri. Masyarakat yang mengadakan pembedaan ini disebut masyarakat diglosis.

3.      Penggunaan Bahasa
Dalam bahasa Indonesia ada disebutkan bahwa kata ganti orang kedua dalam bahasa Indonesia adalah kamu atau engkau. Kenyataannya, secara sosial kedua kata ganti itu tidak dapat dipakai untuk menyapa orang kedua yang lebih tua atau yang dihormati.
Hymes (1974) seorang pakar sosiolinguistik mengatakan, bahwa suatu komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan delapan unsur, yang diakronimkan manjadi SPEAKING, yakni:
1.      Setting and scene, yaitu unsur yang berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan.
2.      Participants, yaitu orang-orang yang terlibat dalam percakapan.
3.      Ends, yaitu maksud dan hasil percakapan.
4.      Act Sequence, yaitu hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan.
5.      Key, yaitu yang menunjuk pada cara atau semangat dalam melaksanakan percakapan.
6.      Instrumentalities, yaitu yang menunjuk pada jalur percakapan; apakah secara lisan atau bukan.
7.      Norms, yaitu yang menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan.
8.      Genres, yaitu yang menunjuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan.

4.      Kontak Bahasa
Dalam masyarakat yang terbuka, artinya yang para anggotanya dapat menerima kedatangan anggota dari masyarakat lain, baik dari satu atau lebih dari satu masyarakat, akan terjadilah apa yang disebut kontak bahasa.
Kontak bahasa adalah proses dimana dua orang atau lebih saling barbicara.

5.      Bahasa dan Budaya
Satu lagi yang menjadi objek kajian linguistik makro adalah mengenai hubungan bahasa dengan budaya atau kebudayaan. Dalam sejarah linguistic ada suatu hipotesis yang sangat terkenal mengenai hubungan bahasa dan kebudayaan ini. Hipotesis ini dikeluarkan oleh dua orang pakar, yaitu Edward Sapir dan Benyamin Lee Whorf yang menyatakan bahwa bahasa mempengaruhi kebudayaan. Atau dengan lebih jelas, bahasa itu mempengaruhi cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat penuturnya. Jadi, bahasa itu menguasai cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat penuturnya. Hipotesis Sapor-Whorf ini memang tidak banyak diikuti orang; tetapi hingga kini masih banyak dibicarakan orang, termasuk juga dalam kajian antropologi. Yang banyak diikuti orang  malah pendapat yang merupakan kebalikan dari hipotesis Sapir-Whorf itu, yaitu bahwa kebudayaanlah yang mempengaruhi bahasa. Umpamanya, karena masyarakat Inggris tidak berbudaya makan nasi, maka dalam bahasa Inggris tidak ada kata untuk menyatakan padi, gabah, beras dan nasi. Yang ada Cuma kata rice untuk keempat konsep itu.
Karena eratnya hubungan antara bahasa dengan kebudayaan ini,maka ada pakar yang menyamakan hubungan keduanya itu sebagai bayi kembar siam, dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Atau sebagai sekeping mata uang;sisi yang satu adalah bahasa dan sisi yang lain adalah kebudayaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar